Sabtu, 15 Desember 2012

Mengenal Tahap-Tahap Persalinan

Oleh Tri Nurhayati


Apa saja yang telah calon Mama persiapkan guna menyambut kelahiran buah hati? Apakah calon Mama mengetahui proses persalinan serta tanda-tanda jika sang buah hati telah siap melihat dunia luar? Idealnya, setiap calon Mama telah mengetahui, sedikit atau banyak, tahu dari pengalaman orang sekitar, membaca, atau dari menonton TV. Lalu apa saja yang menjadi tanda-tanda persalinan yang sebenarnya harus diketahui calon Mama?

KONTRAKSI RAHIM

Kontraksi rahim sebenarnya sudah sering terjadi sejak dua bulan sebelum masa persalinan datang. Namun kontraksinya biasanya tidak terasa sakit, frekuensi, dan lama kontraksi pun tidak teratur. Pada kontraksi persalinan sesungguhnya, sifatnya lebih teratur, diawali dengan muncul setiap 20 menit lalu akan lebih kuat, lama dan sering.

MUNCULNYA BERCAK DARAH

Lepasnya semacam “sumbatan” pada leher rahim menyebabkan kontraksi muncul dengan bercak-bercak darah sebagai tanda persalinan. Bercak-bercak darah terjadi sebelum ataupun sesudah kontraksi di awal persalinan.

KELUARNYA CAIRAN KETUBAN

Cairan ketuban bisa keluar sebelum proses persalinan ataupun keluar beberapa saat setelah kontraksi. Cairan ini tidak bisa dikontrol seperti keluarnya air seni. Jadi, calon Mama akan merasakan ada cairan bening yang keluar cukup banyak yang membasahi celana dalam.
Jika calon Mama mengalami salah satu dari ketiga tanda-tanda tersebut, sebaiknya segera ke dokter. Namun biasanya sebagian dokter meminta calon Mama untuk datang saat kontraksi berlangsung 10 menit sekali, hal ini dikarenakan kemungkinan terjadi kontraksi palsu dan janin calon Mama masih harus tinggal dalam rahim untuk beberapa hari lagi.
Berikut ini adalah tahapan persalinan yang akan Mama jalani:

TAHAP  PERTAMA

Tahap pembukaan adalah tahap pertama dari proses persalinan. Leher rahim menjadi lembut, panjang leher rahim semakin memendek dan lentur. Kelenturannya ini yang dapat mendorong vagina agar janin mudah lewat. Proses persalinan dimulai dari pembukaan dengan lebar sekitar 2-3 jari atau sekitar 4-5 cm. Jika pembukaan sudah penuh, maka leher rahim akan membuka sampai sekitar 10 cm untuk memungkinkan janin lahir. Pada waktu leher rahim terbuka, janin terdorong ke panggul, sehingga menyebabkan tekanan pada kandung kemih dan bagian belakang jalan lahir. Saat seperti ini Mama diharapkan untuk mengejan. Jika kantung ketuban belum pecah, maka akan segera dipecahkan, ini artinya Mama siap untuk tahap kedua proses persalinan.

TAHAP KEDUA

Tahap ini adalah tahap dimana sudah terjadi pembukaan sempurna pada leher rahim sehingga janin dapat melewatinya. Ini merupakan periode yang seringkali menekan janin karena kontraksi terjadi sekitar 2-2,5 menit atau bisa sampai 1 menit sekali. Setiap kali terjadi kontraksi maka terjadi pemutusan pasokan oksigen ke janin, maka kontraksi yang lama pada tahap ini dapat membahayakan janin. Oleh karena itu, maka jika proses ini janin tidak juga mau keluar, maka dokter akan segera melakukan operasi Caesar. Pada persalinan normal, setiap kontraksi akan mendorong janin ke arah luar mendekati vagina, setiap kali Mama mengejan maka janin pun akan maju sedikit. Guntingan episiotomi (guntingan di sekitar vagina) dapat membantu melebarkan bagian yank akan dilalui oleh janin. Begitu lahir, biasanya dokter menjungkirkan bayi dengan memegang kakinya sehingga lendir atau cairan keluar dari saluran pernapasan, lalu bayi akan berusaha bernapas dan menangis, tali pusat akan dijepit dan digunting. Pengguntingan tali pusat memisahkan Mama dari sang bayi dan memutuskan ketergantungan bayi untuk mendapatkan makanan dan oksigen dari Mama. Paru-paru akan berkembang saat bayi menangis, fungsinya untuk mengolah oksigen yang didapatkan dari pernapasannya.

TAHAP KETIGA

Kepala bayi telah keluar, kontraksi di rahim menyebabkan ari-ari atau plasenta terpisah, sebagian dari plasenta mengikuti bayi sampai leher rahim. Tahap ketiga pun dimulai. Ketika kepala bayi memasuki vagina, ada beberapa dokter yang memberikan suntikan ergometrine lewat pembuluh darah balik (intravena) untuk membantu rahim berkontraksi dan mengeluarkan plasenta. Pada saat ini sekitar 150 ml darah biasanya akan keluar bersama plasenta. Di dalam tahap ini ada beberapa kemungkinan komplikasi yang terjadi, tapi umumnya adalah perdarahan setelah persalinan. Keadaan ini dapat disebabkan oleh rahim yang gagal mengerut kembali, tertinggalnya sisa plasenta di rahim, placenta accreata (menempelnya sisa plasenta di otot rahim), serta robeknya leher rahim.
Tahap – tahap pada proses persalinan, baik tanda-tanda atau pun gangguan-gangguan yang terjadi selama persalinan, diharapkan peran suami sebagai calon Papa untuk terus selalu mendampingi calon Mama. Calon Papa adalah teman terbaik bagi calon Mama yang sedang berjuang, ia akan menjadi komunikator bagi calon Mama dan penolong persalinan bila perlu.